Jumat, 29 Maret 2013

Deretan Morfologik



DERETAN MORFOLOGIK & HIRARKI BAHASA

1.        Deretan Morfologik
Deretan morfologik adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata, kejauhan. Untuk mengetahui apakah kata itu terdiri dari satu morfem atau beberapa morfem, haruslah kata itu dibandingkan dengan kata-kata lain dalam deretan morfologik. Di samping kejauhan, terdapat menjauhkan, dijauhkan, terjauh, berjauhan, menjauhi, dijauhi ; jadi deretan morfologiknya sebagai berikut.
Dari perbandingan kata-kata yang terdapat dalam deretan morfologik di atas, dapat disimpulkan adanya morfem jauh sebagai unsur yang terdapat pada tiap-tiap anggota deretan morfologik, hingga dapat dipastikan bahwa kata kejauhan  terdiri dari morfem jauh dan morfem ke – an. Begitupun yang lainnya.
Deretan morfologik amat berguna dalam penentuan morfem-morfem. Kata terlantar misalnya, apakah terdiri dari satu morfem atau dua morfem, dapat diketahui dari deretan morfologik kata itu haruslah dibandingkan dengan kata-kata lain yang terhubung dalam bentuk dan artinya dalam deretan morfologik. dari deretan morfologik diatas, dapat dipastikan bahwa kata terlantar hanya terdiri dari satu morfem.

2.        Hirarki Bahasa
Pada contoh berperikemanusiaan hirarki pembentukannya lebih banyak lagi dibandingkan dibandingkan dengan pada berpakaian. Satuan berperikemanusiaan terbentuk dari unsur ber- dan perikemanusiaan. Satuan perikemanusiaan terbentuk dari unsur peri dan kemanusiaan. Selanjutnya kemanusiaan terbentuk dari unsur ke-an dan manusia. Jadi proses  kemanusiaan terbentuknya satuan berperikemanusiaan demikian : manusia – kemanusiaan – perikemanusiaan – berperikemanusiaan. Diagramnya sebagai berikut :
Timbul pertanyaan, bagaimana unsur itu dapat ditentukan? Apabila satuan yang diselidiki itu hanya terdiri dari dua satuan, dengan mudah dapat ditentukan bahwa kedua satuan itu merupakan unsurnya. Berikut merupakan cara menyelidiki satuan tersebut.
Cara pertama, dicari kemungkinan adanya satuan yang satu tingkat lebih kecil daripada satuan yang diselidiki. Pada berperikemanusiaan, satuan yang satu tingkat lebih kecil ialah perikemanusiaan. Satuan *berperikemanusia tidak ada. Maka dapat ditentukan bahwa berperikemanusiaan terdiri dari unsur ber- dan perikemanusiaan. Begitupun dengan yang lain. Sedangkan cara keduanya adalah melalui faktor arti dan makna. Misalnya, kata pembacaan mempunyai arti hal membaca, atau suatu abstraksi dari perbuatan membaca. Kalau pembacaaan terbentuk dari unsur peN- dan bacaan, tentulah makna peN- tidak sesuai dengan arti yang dinyatakan oleh kata pembacaan, karena afiks peN- pada umumnya :
a)         Orang yang (biasa) melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar, atau mungkin pula menyatakan alat yang biasa dipakai untuk melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya pemimpin, pencukur, penulis, pemangkas, pencipta, penggaris, dan sebagainya.
b)        Orang yang memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya pemalas, penakut, pemalu, pemberani, pengasih, penyayang, dan sebagainya.
c)         Sesuatu yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya penyakit, penguat, penawar, penghalus, pembesar, pemerah, pengering, dan sebagainya.

3.        Bentuk Asal dan Bentuk Dasar
Bentuk asal ialah satuan yang paling kecil yang menjadi asal Sesuatu kata kompleks. Misalnya kata berpakaian terbentuk dari bentuk asal pakai mendapat bubuhan afiks –an menjadi pakaian, kemudian mendapat bubuhan afiks –ber menjadi berpakaian.
Bentuk dasar ialah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar. kata berpakaian, misalnya, terbentuk dari bentuk dasar pakaian dengan afiks ber- : selanjutnya kata pakaian terbentuk dari bentuk dasar pakai dengan afiks –an . Kata berkesudahan terbentuk dari bentuk dasar kesudahan dengan afiks ber-, dan selanjutnya kata kesudahan terbentuk dari bentuk dasar sudah dengan afiks ke –an.
Bentuk asal selalu berupa bentuk tunggal, berbeda dengan bentuk dasar, mungkin berupa bentuk dasar, mungkin berupa bentuk tunggal, misalnya pakai dalam pakaian, sudah dalam kesudahan, rumah dalam perumahan, pergi dalam berpergian, kata dalam berkata, dan mungkin pula berupa bentuk kompleks, misalnya pakaian dalam berpakaian, kesudahan dalam berkesudahan, pemimpin dalam berpemimpin, dan kepemimpinan, berangkat dalam keberangkatan, alasan dalam beralasan, berhasil dalam keberhasilan, mengerti dalam dimengerti. tidak mampu dalam ketidakmampuan, sandaran dalam bersandaran, sinambung dalam kesinambungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar