Minggu, 31 Maret 2013

Hubungan Perlokusi dengan Psikolinguistik



Dalam kajian tindak tutur (speech acr) Austin, dikenal adanya makna lokusi, makna ilokusi, dan makna perlokusi. Yang dimaksud dengan makna lokusi adalah makna seperti yang dinyatakan dalam ujatan, makna harfiah, atau makna apa adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan makna ilokusi adalah makna seperti yang dipahami oleh pendengar. Sebaliknya, makna perlokusi adalah makna yang seperti yang diinginkan oleh penutur. Misalnya, kalau seseorng kepada tukang afdruk foto di pinggir jalan bertanya:
“Bang, tiga kali empat, berapa?”.
Makna secara lokusi kalimat tersebut adalah keinginan tahu dari si penutur tentang berapa tiga kali empat. Namun, makna perlokusi, makna yang diingikan oleh si penutur adalah bahwa si penutur ingin tahu berapa biaya mencetak foto ukuran tiga kali empat sentimenter.
Artikel ini akan membahas tanggapan Austin terhadap gejala-gejala kebahasaan yang dapat kita temukan sehari-hari. Perlokusi adalah akibat atau pengaruh yang ditimbulkan oleh isi tuturan, baik nyata maupun tidak.  Di sini terkandung unsur kesengajaan dari si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya melalui isi tuturan yang dilontarkannya.
Menurut Austin, mengucapkan sesuatu acapkali menimbulkan pengaruh yang pasti terhadap perasaan, pemikiran atau perilaku si pendengar atau si penutur itu sendiri, ataupun bagi orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merancang, mengarahkan atau menetapkan tujuan tertentu pada perkataan yang akan kita ungkapkan. Inilah yang dinamakan tindakan perlokusi. Contoh: 1) Saya telah membuat temanku mampu mengatasi kesedihannya, 2) Saya meyakinkan dia bahwa belajar secara rutin akan memberikan hasil yang lebih baik, dan 3) Saya membujuk adik agar menghentikan tangisannya.
Jenis-jenis kata kerja lainnya yang merupakan ciri khas tindakan perlokusi ini adalah: membimbing dan mempelajari sesuatu, memperdayakan, mengajak, merangsang, mengejutkan, menggembirakan, menyebabkan dan melakukan sesuatu, membangkitkan, membingungkan, menyebabkan dan memikirkan tentang sesuatu, meredakan ketegangan, mempermalukan, menarik perhatian, mengemukakan, dan lain-lain.
Dalam tindakan perlokusi, akibat yang timbul memang dirancang dan diarahkan sedemikian rupa, sehingga ada upaya untuk mempengaruhi pendengar secara maksimal. Apabila dikatakan “saya membutuhkannya agar ia mau meminjami saya uang”, maka di sini terkandung upaya si penutur (saya) untuk memperoleh pinjaman uang dari seseorang melalui cara-cara tertentu. Artinya, sesuatu tindakan perlokusi merupakan hasil yang diinginkan atau telah diperhitungkan sebelumnya oleh si penutur. Jadi, tujuan si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya itulah yang paling menonjol dalam tindakan perlokusi ini.
Psikolinguistik merupakan ilmu yang menguraikan proses-proses psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan kalimat dan memahami kalimat yang didengarnya waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Simanjuntak, 1987 : 1). Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat- kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Secara teoretis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari teori yang bisa diterima secara linguistik dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya.
Pemelajaran bahasa merupakan sebuah proses. Pada hal ini, berarti bahwa dalam pemelajaran bahasa terdapat rangkaian perilaku yang menyebabkan terjadinya berbagai perubahan, yaitu penggantian secara bertahap sebuah kondisi dengan kondisi lain yang mengarah pada keadaan akhir yang diharapkan. Kegiatan pemelajaran bahasa akan berjalan dengan baik, jika dilandasi oleh metode-metode pendukung yang efisien. Psikolinguistik telah bermanfaat dalam menjalankan pemelajaran keterampilan berbahasa dan mencerahkan hubungan bahasa dengan proses mental pada saat proses resepsi dan produksi bahasa terjadi. Proses resepsi meliputi aktifitas menyimak dan membaca. Manfaat berbagai temuan studi psikolinguistik terhadap pemelajaran keterampilan berbahasa, dikemukakan pada kegiatan belajar.
Dalam kaitannya dengan perlokusi, psikolinguistik memiliki kesamaan dengan perlokusi pada bagian psikis penutur-pendengar. Kedua teori tersebut memiliki kesamaan yang erat dalam memelajari makna-makna abstrak yang diperoleh dari hasil kegiatan menyimak maupun berbicara. Akan tetapi, perlokusi lebih mementingkan objek kajian kepada penutur dibandingkan dengan pendengar. Sedangkan psikolinguistik lebih memelajari hal-hal yang diperoleh pendengar mengenai apa yang telah disimaknya dan lebih merujuk kepada pemerolehan bahasa dalam bentuk psikis individu itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perlokusi lebih banyak berwujud harapan penutur kepada pembaca. Dalam konteks psikolinguistik, pendengar maupun penyimak bacaan tentunya akan memeroleh perasaan puas maupun ketidakpuasan mengenai teori yang disampaikan oleh penulis. Akan tetapi, hubungan antara perlokusi dengan psikolinguistik tidak sama kedudukannya, karena jika dilihat dari beberapa contoh kalimat-kalimat yang telah diamati bahwa perlokusi lebih terlihat pada konteks penutur, sedangkan psikolinguistik terletak pada konteks penerima.
Jadi, sudah jelas bahwa perlokusi merupakan tuturan yang disampaikan oleh penutur kepada penerima tuturan, namun penutur memiliki maksud berupa harapan atas tuturannya kepada penerima. Selain itu kedudukan perlokusi juga hanya terletak pada penutur saja, sedangkan penerima lebih kepada penerima.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar