Jumat, 29 Maret 2013

Psikolinguistik Sebagai Ilmu


PSIKOLINGUISTIK SEBAGAI ILMU BAHASA

Pada abad yang silam terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan dan yang sangat memengaruhi perkembangan linguistik dan psikologi. Yang pertama adalah aliran empirisme yang erat kaitannya dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme melakukan kajian terhadap data empiris atau objek yang dapat diobservasi dengan cara menganalisis unsur-unsur pembentukannya sampai yang terkecil. Aliran yang kedua adalah rasionalisme yang cenderung mengkaji prinsip-prinsip akal yang bersifat batin dan faktor bakat atau pembawaan yang bertanggung jawab mengatur perilaku manusia. Aliran ini mengkaji akal sebagai suatu kesatuan yang utuh dan menganggap batin atau akal ini sebagai faktor yang penting untuk diteliti guna memahami perilaku manusia.
Pada awal abad ke-20, Ferdinand de Saussure (1858-1913), pakar linguistik berkebangsaan Swiss, telah berusaha menerangkan apa sebenarnya bahasa itu (linguistik) dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Ini berarti, kalau ingin mengkaji bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistik dan psikologi harus digunakan. Hal ini dikatakannya karena beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.
Bloomfield, seorang linguis dari Amerika Serikat dipengaruhi oleh dua buah aliran psikologi yang bertentangan dalam menganalisis bahasa. Pada mulanya ia sangat dipengaruhi oleh psikologi mentalisme dan kemudian beralih pada psikologi behaviorisme. Karena pengaruh mentalisme, Bloomfield berpendapat bahwa bahasa itu merupakan ekspresi pengalaman yang lahir karena tekanan emosi yang sangat kuat. Sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan mentalisme dan mulai menggunakan behaviorisme dan menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang sekarang terkenal dengan nama linguistik struktural atau linguistik taksonomi.
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa Linguistik atau Ilmu Bahasa, memiliki cabang-cabang ilmu seperti Linguistik Mikro dan Linguistik Makro. Linguistik Mikro adalah cabang ilmu bahasa yang memelajari bahasa dari dalamnya, dengan perkataan lain, memelajari struktur bahasa itu sendiri. Sedangkan Linguistik Makro adalah cabang ilmu bahasa yang memelajari bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, termasuk di dalamnya bidang interdisipliner dan bidang terapan. Beberapa cabang Linguistik Mikro antara lain adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik. Linguistik mikro lebih membahas tentang tujuan dan apa yang melatarbelakangi penciptaan bahasa, serta fungsinya. Sedangkan Linguistik makro meliputi Psikolinguistik, Sosiolinguistik, Linguistik Komputational, dan sebagainya, karena Linguistik Makro lebih mengkaitkan ilmu bahasa dengan aspek-aspek yang ada di luar ilmu kebahasaan. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan tentang salah satu cabang ilmu bahasa makro, yaitu Psikolinguitik. Berdasarkan pengalaman kita, kita tahu bahwa salah satu cara untuk menjelaskan makna sebuah kata adalah dengan melalui pendekatan etimologis. Artinya, sebuah kata itu dicari etimologinya dan dapat baru dipahami maknanya. Kata psikolinguistik pun dapat dijelaskan dengan pendekatan semacam itu. Secara etimologis kata Psikolinguistik berasal dari dua kata, yakni psikologi dan linguistik yang sebenarnya merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan.
Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materinya saja yang berbeda. Linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannya juga berbeda. Sementara itu, secara etimologis Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno psyche dan logos. Kata psyce berarti “jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi psikologi, secara harfiahnya berarti “ilmu jiwa”, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Pada mulanya, kerja sama antar dua disiplin itu disebut linguistic psychology dan ada juga yang menyebutnya psychology of language. Kemudian sebagai hasil kerja sama yang lebih baik, lebih terarah, dan lebih sistematis di antara kedua ilmu itu, lahirlah satu disiplin ilmu baru yang disebut Psikolinguistik, sebagai ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik. Istilah psikolinguistik itu sendiri baru lahir tahun 1954, yakni tahun terbitnya buku Psycholinguistics : A Survey of Theory an Research Problems yang disunting oleh Charles E. Osgood dan Thomas A. Sebeok, di Bloomington, Amerika Serikat.
Psikolinguistik merupakan ilmu yang menguraikan proses-proses psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan kalimat dan memahami kalimat yang didengarnya waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Simanjuntak, 1987 : 1). Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat- kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Secara teoretis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari teori yang bisa diterima secara linguistik dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya.
Kerjasama antara psikologi dan linguistik tampaknya belum cukup untuk dapat menerangkan hakikat bahasa, seperti tercermin dalam definisi-definisi tersebut di atas. Berikut adalah beberapa subdisiplin ilmu dalam psikolinguistik. Subdisiplin dalam Psikolinguistik, meliputi psikolinguistik teoretis, psikolinguistik perkembangan, psikolinguistik sosial, psikolinguistik pendidikan, psikolinguistik eksperimental, neuropsikolinguistik, dan psikolinguistik terapan.
Psikolinguistik teoretis, adalah cabang psikolinguistik yang membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori bahasa, misalnya tentang hakikat bahasa, ciri bahasa manusia, teori kompetensi dan performansi atau teori langue dan parole, dan sebagainya. Psikolinguistik perkembangan, membicarakan tentang pemerolehan bahasa, misalnya peranti pemerolehan bahasa dan periode kritis pemerolehan bahasa. Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu. Psikolinguistik sosial, membicarakan tentang aspek-aspek sosial bahasa, misalnya sikap bahasa, akulturasi bahasa, jarak sosial dan pendidikan. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa bukan hanya merupakan suatu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan. Psikolinguistik pendidikan, membicarakan  tentang aspek pendidikan secara umum di sekolah, terutama mengenai peranan bahasa dalam pengajaran bahasa pada umumnya.
Psikolinguistik eksperimental, membicarakan tentang eksperimen eksperimen dalam semua bidang yang melibatkan bahasa dan perilaku bahasa. Neuropsikolinguistik, membicarakan tentang hubungan bahasa dengan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis  otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Psikolinguistik terapan, membicarakan tentang penerapan temuan-temuan subdisiplin psikolinguistik. Yang termasuk dalam subdisiplin ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pemelajaran bahasa.
Pemelajaran bahasa merupakan sebuah proses. Pada hal ini, berarti bahwa dalam pemelajaran bahasa terdapat rangkaian perilaku yang menyebabkan terjadinya berbagai perubahan, yaitu penggantian secara bertahap sebuah kondisi dengan kondisi dengan kondisi lain yang mengarah pada keadaan akhir yang diharapkan. Kegiatan pemelajaran bahasa akan berjalan dengan baik, jika dilandasi oleh metode-metode pendukung yang efisien. Psikolinguistik telah bermanfaat dalam menjalankan pemelajaran keterampilan berbahasa dan mencerahkan hubungan bahasa dengan proses mental pada saat proses resepsi dan produksi bahasa terjadi. Proses resepsi meliputi aktifitas menyimak dan membaca. Manfaat berbagai temuan studi psikolinguistik terhadap pemelajaran keterampilan berbahasa, dikemukakan pada kegiatan belajar. Berikut adalah beberapa teori pemelajaran bahasa dalam psikologi.
Teori Stimulus-Respons. Teori ini memiliki dasar pandangan bahwa perilaku berbahasa, bermula dengan adanya stimulus yang segera menimbulkan respons. Teori ini bermula dari hasil eksperimen Ivan P. Pavlov, seorang ahli fisiologi Rusia, terhadap seekor anjing percobaannya. Teori-Teori Kognitif. Teori ini pada awal kelahirannya dimulai dengan penggabungan teori S-R dan teori Gestalt yang dilakukan oleh Tolman dan kawan-kawan. Maksud dari teori ini adalah pengkajian bagaimana caranya persepsi memengaruhi perilaku dan bagaimana caranya pengalaman memngaruhi persepsi. Dengan kata lain, teori kognitif mengkaji proses-proses akal atau mental yang berlaku pada waktu proses pemelajaran berlangsung.
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika memeroleh bahasa pertamanya atau bahasa-ibunya. Pemelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak memelajari bahasa kedua, setelah dia memeroleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pemelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. Menurut Chomsky, pemerolehan bahasa pertama seorang anak  terdiri dari tiga buah pemerolehan bahasa, yakni pemerolehan fonologi, pemerolehan sintaksis, dan pemerolehan semantik.
Pemerolehan fonologi didukung oleh beberapa teori seperti Teori Struktural Universal, Teori Generatif Universal, Teori Proses Fonologi Ilmiah, Teori Prosodi-Akustik, serta Teori Kontras dan Proses. Teori Struktural Universal, dikemukakan oleh Jakobson. Pada intinya teori ini mencoba menjelaskan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal linguistik, yaitu hukum-hukum struktural yang mengatur setiap perubahan bunyi.
Teori Generatif Universal, diperkenalkan oleh Jakobson tetapi dikembangkan lagi oleh Moskowitz dengan cara menerapkan unsur-unsur fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle. Menurut teori ini adalah penemuan konsep dan pembentukan hipotesis berupa rumus-rumus yang dibentuk oleh anak berdasarkan Data Linguistik Utama, yaitu kata-kata dan kalimat-kalimat yang didengarnya sehari-hari. Teori Proses Fonologi Ilmiah, diperkenalkan oleh David Stampe. Menurut teori ini, proses fonologi anak bersifat nurani yang harus mengalami penindasan, pembatasan, dan pengaturan yang sesuai dengan penuranian representasi fonemik orang dewasa.
Teori Prosodi-Akustik, diperkenalkan oleh Waterson. Berdasarkan teori ini, pemerolehan bahasa adalah satu proses sosial sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang sebenarnya daripada pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui pemerolehan fonologi. Teori Kontras dan Proses, diperkenalkan oleh Ingram. Berdasarkan teori ini, anak memeroleh sistem fonologi orang dewasa dengan cara menciptakan strukturnya sendiri dan kemudian mengubah struktur tersebut jika pengetahuan mengenai sistem orang dewasa semakin baik.
Pemerolehan sintaksis didukung oleh beberapa teori seperti Teori Tata Bahasa Pivot, Teori Hubungan Tata Bahasa Nurani, Teori Hubungan Tata Bahasa dan Informasi Situasi, Teori Kumulatif Kompleks, dan Teori Pendekatan Semantik. Teori Tata Bahasa Pivot, diperkenalkan oleh Braene, Bellugi, Brown dan Fraser, serta Miller dan Ervin. Menurut teori ini, ucapan dua kata-kata anak terdiri dari dua jenis kata menurut posisi dan frekuensi munculnya kata-kata itu dalam kalimat. Kedua kata tersebut kemudian dikenal dengan nama kelas pivot dan kelas terbuka. Pada umumnya kelas pivot terdiri dari kata-kata fungsi, sedangkan yang termasuk kelas terbuka terdiri dari kata-kata isi atau kata-kata penuh berupa nomina dan verba.
Teori Hubungan Tata Bahasa Nurani, diperkenalkan oleh Chomsky. Berdasarkan teori ini, hubungan tata bahasa tertentu seperti Subjek, Predikat, Objek, adalah bersifat universal dan dimiliki oleh semua bahasa. Berdasarkan teori tersebut, Mc Neil berpendapat bahwa pengetahuan anak mengenai hubungan tata bahasa universal adalah bersifat nurani, karena memengaruhi pemerolehan sintaksis anak sejak tahap awalnya. Teori Hubungan Tata Bahasa dan Informasi Situasi, diperkenalkan oleh Bloom. Menurut teori ini, hubungan tata bahasa tanpa merujuk pada informasi situasi, belum mencukupi untuk menganalisis ucapan atau bahasa anak. Maka diperlukan sebuah situasi untuk dapat menganalisisnya.
Teori Kumulatif Kompleks, dikemukakan oleh Brown. Berdasarkan teori ini, urutan pemerolehan sintaksis oleh anak ditentukan oleh kumulatif kompleks semantik morfem dan kumulatif kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu. Jadi, tidak sama sekali ditentukan oleh frekuensi munculnya morfem atau kata-kata itu dalam ucapan orang dewasa. Teori Pendekatan Semantik, diperkenalkan oleh Greenfield dan Smith. Akan tetapi lebih dulu diperkenalkan oleh Bloom. Berdasarkan teori ini, pendekatan semantik menemukan struktur ucapan berdasarkan hubungan-hubungan semantik.
Pemerolehan semantik didukung oleh beberapa teori seperti Teori Hipotesis Fitur Semantik, Teori Hipotesis Hubungan-Hubungan Gramatikal, Teori Hipotesis Generalisasi, serta Teori Hipotesis Primitif-Primitif Universal. Teori Hipotesis Fitur Semantik. Menurut beberapa ahli psikolinguistik perkembangan, anak memeroleh makna suatu kata dengan cara menguasai fitur-fitur semantik sampai benar-benar menguasainya. Teori ini memandang bahwa fitur-fitur makna yang digunakananak dianggap sama dengan fitur makna orang dewasa.
Teori Hipotesis Hubungan-Hubungan Gramatikal, diperkenalkan oleh Mc Neil. Menurut teori ini, pada waktu dilahirkan seorang anak telah dilengkapi dengan hubungan-hubungan gramatikal dalam yang nurani. Secara horizontal, pada mulanya anak hanya memiliki beberapa fitur semantik untuk setiap butir leksikal terhadap penguasaan bahasanya. Teori Hipotesis Generalisasi, diperkenalkan oleh Anglin. Menurut teori ini, perkembangan semantik anak mengikuti satu proses generalisasi, yakni kemampuan anak melihat hubungan-hubungan semantik antara nama-nama benda mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak. Teori Hipotesis Primitif-Primitif Universal, diperkenalkan oleh Postal, lalu dikembangkan oleh Bierwisch. Menurut teori ini, menyatakan bahwa primitif-primitif semantik atau komponen-komponen semantik mewakili kategori yang sudah ada sejak awal yang digunakan oleh manusia untuk menggolongkan struktur benda-benda yang diamati manusia.
Perkembangan atau pertumbuhan sel otak manusia berlangsung dengan sangat cepat, sejak bayi hingga akhir masa remaja. Otak terbagi atas dua hemisfer, yakni hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Hemisfer kiri memang dominan untuk fungsi bicara bahasa, tetapi tanpa hemisfer kanan, maka pembicaraan seseorang akan menjadi monoton, tak ada prosodi, tak ada lagu kalimat, tanpa menampakkan adanya emosi, dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa. Ada beberapa teori yang mendukung proses pembicaraan bahasa, seperti Teori Laterisasi dan Lokalisasi. Teori Lateralisasi menyatakan bahwa pusat-pusat bahasa berada pada hemisfer kiri. Sedangkan Teori Lokalisasi menyatakan bahwa pusat-pusat bahasa berada di daerah kedua hemisfer. Selain itu, dilihat dari jenis kelamin. Otak wanita dengan otak pria terdapat beberapa perbedaan. Otak wanita lebih maju dibandingkan otak pria, karena otak wanita lebih seimbang, tajam, awet dan selektif.
Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu memunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif. Secara medis, gangguan berbahasa terdiri atas gangguan berbicara, gangguan multifaktorial, dan psikogenik. Gangguan berbicara disebabkan karena kelainan paru-paru, lidah, bahkan pita suara. Gangguan multifaktorial disebabkan karena penyakit seperti kerusakan otak, artikulasi yang rusak, bahkan karena sering membisu. Sedangkan gangguan psikogenik disebabkan karena manja, latah, kemayu dan gagap. Selain gangguan medis, masih ada gangguan berbahasa, berpikir, serta lingkungan. Gangguan berbahasa disebabkan karena ketidakseimbangan antara hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Kemudian gangguan berpikir disebabkan karena gangguan otak seperti pikun, sisofrenik dan depresif. Sedangkan gangguan lingkungan disebabkan karena kurang sosialisasi antar sesama.


DAFTAR PUSTAKA


Ardiana, Leo Idra & Sodiq, Syamsul. 2003. Psikolinguistik. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2002. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta : Rineka Cipta.

Suherlan & Rosidin, Odien. 2004. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya : Pengantar Memahami Linguistik. Serang : FKIP Untirta Serang.

1 komentar: